PESTA Piala AFF 2010 usai sudah. Usai pula ingar-bingar dan euforia yang menyertai Timnas Indonesia. Harapan segenap elemen bangsa agar Firman Utina dan kawan-kawan menjuarai turnamen dua tahunan itu kandas. Untuk keempat kalinya Timnas Indonesia gagal di final. Sederet panjang alasan boleh saja dikemukakan. Dijadikan kambing hitam kekalahan Timnas Indonesia di laga final Piala AFF 2010 atas tim Malaysia. Tetapi itulah kenyataannya. Kekalahan tak terbantahkan. Meski menang 2-1 pada leg kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno Rabu malam, tetapi dua gol tak mampu menutup defisit agregat 4 gol yang dicetak Malaysia. Para pengamat sepakbola pada umumnya menyatakan, tahun ini Indonesia memiliki peluang besar menjuarai Piala AFF. Betapa tidak. Hingga babak semifinal, Firman Utina dan kawan-kawan tak pernah kalah. Bahkan menang dengan skor yang meyakinkan. Melibas Laos 6-0, menundukkan Malaysia 5-1, dan menang 2-1 melawan Thailand di babak penyisihan. Di babak semifinal, secara agregat Indonesia menang 2-0 melawan Filipina. Tetapi apa mau dikata. Di babak final Malaysia justru membalikkan keadaan. Malaysia belajar dan mengevaluasi kekalahan telak 1-5 sebagai pelajaran yang amat berharga. Sementara Pasukan Garuda terbawa dalam arus euforia. Menghadiri pesta dan ritual bersama, yang sesungguhnya bukan menjadi bagian dari agenda. Masyarakat bangsa pun mengelu-elukannya, seolah sudah menjadi juara. Benar kata Alfred Riedl, sang pelatih. Bambang Pamungkas dan kawan-kawan harus kembali menginjak bumi menyusul kekalahan telak 0-3 di final leg pertama. Menyakitkan memang. Di saat masyarakat bangsa membutuhkan rasa bangga di dada di tengah keterpurukan prestasi keolahragaan nasional di tingkat regional maupun internasional, Firman Utina dan kawan-kawan gagal mempersembahkan gelar. Pasukan bola Indonesia seolah keledai yang terantuk pada batu yang sama. Bukan hanya sekali, tetapi untuk yang keempat kalinya. Pada tempatnya dengan demikian bila di ajang Piala AFF, Indonesia mendapat julukan spesialis runner up yang hampir-hampir tidak ada nilai kebanggaannya. Kegagalan di turnamen Piala AFF 2010 tentu berdampak buruk pada PSSI. Organisasi persepakbolaan nasional itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk di antara yang harus dipertanggungjawabkan adalah, mengapa PSSI membuka ruang bagi hadirnya nuansa-nuansa politis. Mengizinkan Pasukan Garuda memenuhi jamuan makan yang diselenggarakan seorang pemimpin partai politik. Berikut, menghadirkan wajah sejumlah tokoh partai politik dalam sederet spanduk di Stadion Bukit Jalil Malaysia. PSSI harus bertanggung jawab atas kegagalan Timnas Indonesia merebut Piala AFF 2010 yang sudah di depan mata. Sebab secara organisatoris, justru PSSI-lah yang seolah mengkondisikan Pasukan Garuda menjauhi zona juara dengan membawanya pada serangkaian acara yang tidak ada kaitan langsung dengan dunia sepakbola. PSSI seolah mengerosi mental juara Pasukan Garuda dengan berbagai agenda yang belum waktunya. Aneh memang, mengapa euforia dan pesta itu digelar sebelum gelar juara tergenggam di tangan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment